Pernahkah kita mendengar dan mungkin membenarkan
pernyataan seseorang yang menceritakan tentang ‘pahitnya hidup’?. Di sisi lain
umumnya orang mengatakan itu hal yang lumrah. Sebagai manusia tentulah kita
akan mengalami manis-pahitnya kehidupan bukan?. Meskipun begitu, kita tidak
boleh memaknainya sebagai kewajaran yang bersifat absolut. Karena bila dilihat
dari sudut pandang ayat di atas -al kautsar-, yang mengatakan tentang melimpah
ruahnya nikmat yang diberikan Allah, tentulah akan bertabrakan dengan kejadian
yang kita rasakan dalam hidup ini. Terutama yang berfaham kewajaran. Karena
tiap kajadian baik itu manis maupun pahit selalu ada hikmah yang mengiringinya.
Bila dilihat dari kaca mata batiniah, kita
disuruh mengambil i’tibar atau hikmah di balik setiap kejadian dalam hidup ini.
Disitulah kita akan menemukan nikmat hidup. Bagaimana cara memahaminya? dengan
cara bersinggungan lewat pahit manisnya hidup ini. Sebagaimana kita ingin tahu
seperti apa sabar itu, otomatis kita akan mengalami kejadian yang memaksa kita
untuk dapat menahan amarah kita. Tanpa mekanisme itu, kita hanya tahu kalimat
sabar tapi tidak memahami esensinya. Sebagaimana nasehat orang tua dulu,
’meskipun pahit jangan tergesa-gesa memuntahkan, siapa tahu itu obat. Dan
meskipun itu manis jangan tergesa-gesa memakannya, siapa tahu itu racun’.
Sebegitu pentingnya hal ini, dijelaskan juga di
ayat lain yaitu surat Ibrahim ayat 34, ” -dan- Dia telah memberikan kepadamu
-keperluanmu- dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya
manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari -nikmat Allah-”. Menghitung
nikmat Allah ibaratnya menghitung bintang di langit.
Maka, andaikata kita berani memerdekakan alam
fikir kita, tidak terbelenggu dengan fenomena hidup ini. Selalu fokus pandangan
kita pada Sang Pencipta Segala Kejadian, sesungguhnya tidak ada istilah
’kepahitan’ dalam hidup ini atau apapun istilah yang kita gunakan. Yang ada
hanya kenikmatan hidup. Ketidak fahaman kita akan hidup secara tidak kita
sadari alam fikir kita telah terkontaminasi oleh polusi hidup yang kita
ciptakan sendiri. Kita telah mengotori kehidupan kita sendiri. Dampaknya,
banyak yang ketakutan dalam membeli sebuah harga untuk memilih.
Bagaimana kita bisa merasakan manisnya hidup bila
kita tidak pernah merasakan pahitnya hidup? bagaimana kita bisa mengatakan air
itu manis bila -barang setetespun- belum pernah mencicipi rasa air yang pahit?.
Hidup adalah pilihan. Semua orang di belahan bumi manapun akan memilih
‘kemanisan’ dalam hidupnya bukan?. Karena itu adalah fitroh manusia. Namun
sayang, manusia banyak yang mengkebiri potensinya sendiri hanya gara-gara
sebuah keadaan -putus asa-. Manusia banyak mengakhiri perjalanan hidupnya
-impiannya- yang sebenarnya belum berakhir.
Jika kita berpandangan bijak, tentulah kita akan
menemukan kefahaman baru kalau sesungguhnya kepahitan hidup hanyalah proses
atau perjalanan awal untuk sampai pada manisnya hidup itu sendiri. Bila kita
berjalan terus tentu kita akan sampai. Berhubung kita berhenti di tengah jalan
maka dalam hidup akan selalu menemukan kepahitan. Kondisi ini jika kita
rumuskan, ‘Bila kita ingin sampai ke ‘angka 9’, maka konsekuensinya kita harus
melalui ‘angka 0,1,2,3, 4,5,…....8’.
Bila kita runut dari uraian di atas, pada
hakikatnya yang ada dalam hidup ini adalah kenikmatan atau kemanisan hidup. Dan
yang perlu kita tekankan di sini adalah ‘melewati kepahitan hidup’ dengan
‘pahitnya hidup’ tidaklah sama pengertiannya. Ternyata kita hanya ‘melewati’.
Sekali lagi! hanya lewat alias numpang lewat.
Proses ’numpang lewat’ untuk sampainya pada
manisnya hidup tidak lain karena Allah sedang membimbing kita untuk merasakan
hidangan-Nya secara utuh -lengkap-. Kita sebenarnya telah di bimbing sekaligus
di ajari merasakan karunia-Nya beserta rute untuk sampai ke nikmat tersebut.
Dengan begitu rasa syukur kita menjadi lebih sreg dan juga point plusnya
sebagai sarana informasi bagi yang ingin menanyakan tentang nikmat-Nya. Bila
dipertegas, tentulah ’proses numpang lewat’ tersebut sebenarnya juga bagian
dari nikmat itu sendiri. Terangkum dalam bahasa penuh makna. Surat Al Kautsar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar