Senin, 10 Maret 2014

Kepahitan Itu Hanyalah Keniscayaan



Pernahkah kita mendengar dan mungkin membenarkan pernyataan seseorang yang menceritakan tentang ‘pahitnya hidup’?. Di sisi lain umumnya orang mengatakan itu hal yang lumrah. Sebagai manusia tentulah kita akan mengalami manis-pahitnya kehidupan bukan?. Meskipun begitu, kita tidak boleh memaknainya sebagai kewajaran yang bersifat absolut. Karena bila dilihat dari sudut pandang ayat di atas -al kautsar-, yang mengatakan tentang melimpah ruahnya nikmat yang diberikan Allah, tentulah akan bertabrakan dengan kejadian yang kita rasakan dalam hidup ini. Terutama yang berfaham kewajaran. Karena tiap kajadian baik itu manis maupun pahit selalu ada hikmah yang mengiringinya.

Bila dilihat dari kaca mata batiniah, kita disuruh mengambil i’tibar atau hikmah di balik setiap kejadian dalam hidup ini. Disitulah kita akan menemukan nikmat hidup. Bagaimana cara memahaminya? dengan cara bersinggungan lewat pahit manisnya hidup ini. Sebagaimana kita ingin tahu seperti apa sabar itu, otomatis kita akan mengalami kejadian yang memaksa kita untuk dapat menahan amarah kita. Tanpa mekanisme itu, kita hanya tahu kalimat sabar tapi tidak memahami esensinya. Sebagaimana nasehat orang tua dulu, ’meskipun pahit jangan tergesa-gesa memuntahkan, siapa tahu itu obat. Dan meskipun itu manis jangan tergesa-gesa memakannya, siapa tahu itu racun’.

Sebegitu pentingnya hal ini, dijelaskan juga di ayat lain yaitu surat Ibrahim ayat 34, ” -dan- Dia telah memberikan kepadamu -keperluanmu- dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari -nikmat Allah-”. Menghitung nikmat Allah ibaratnya menghitung bintang di langit.

Maka, andaikata kita berani memerdekakan alam fikir kita, tidak terbelenggu dengan fenomena hidup ini. Selalu fokus pandangan kita pada Sang Pencipta Segala Kejadian, sesungguhnya tidak ada istilah ’kepahitan’ dalam hidup ini atau apapun istilah yang kita gunakan. Yang ada hanya kenikmatan hidup. Ketidak fahaman kita akan hidup secara tidak kita sadari alam fikir kita telah terkontaminasi oleh polusi hidup yang kita ciptakan sendiri. Kita telah mengotori kehidupan kita sendiri. Dampaknya, banyak yang ketakutan dalam membeli sebuah harga untuk memilih.

Bagaimana kita bisa merasakan manisnya hidup bila kita tidak pernah merasakan pahitnya hidup? bagaimana kita bisa mengatakan air itu manis bila -barang setetespun- belum pernah mencicipi rasa air yang pahit?. Hidup adalah pilihan. Semua orang di belahan bumi manapun akan memilih ‘kemanisan’ dalam hidupnya bukan?. Karena itu adalah fitroh manusia. Namun sayang, manusia banyak yang mengkebiri potensinya sendiri hanya gara-gara sebuah keadaan -putus asa-. Manusia banyak mengakhiri perjalanan hidupnya -impiannya- yang sebenarnya belum berakhir.

Jika kita berpandangan bijak, tentulah kita akan menemukan kefahaman baru kalau sesungguhnya kepahitan hidup hanyalah proses atau perjalanan awal untuk sampai pada manisnya hidup itu sendiri. Bila kita berjalan terus tentu kita akan sampai. Berhubung kita berhenti di tengah jalan maka dalam hidup akan selalu menemukan kepahitan. Kondisi ini jika kita rumuskan, ‘Bila kita ingin sampai ke ‘angka 9’, maka konsekuensinya kita harus melalui ‘angka 0,1,2,3, 4,5,…....8’.

Bila kita runut dari uraian di atas, pada hakikatnya yang ada dalam hidup ini adalah kenikmatan atau kemanisan hidup. Dan yang perlu kita tekankan di sini adalah ‘melewati kepahitan hidup’ dengan ‘pahitnya hidup’ tidaklah sama pengertiannya. Ternyata kita hanya ‘melewati’. Sekali lagi! hanya lewat alias numpang lewat. 

Proses ’numpang lewat’ untuk sampainya pada manisnya hidup tidak lain karena Allah sedang membimbing kita untuk merasakan hidangan-Nya secara utuh -lengkap-. Kita sebenarnya telah di bimbing sekaligus di ajari merasakan karunia-Nya beserta rute untuk sampai ke nikmat tersebut. Dengan begitu rasa syukur kita menjadi lebih sreg dan juga point plusnya sebagai sarana informasi bagi yang ingin menanyakan tentang nikmat-Nya. Bila dipertegas, tentulah ’proses numpang lewat’ tersebut sebenarnya juga bagian dari nikmat itu sendiri. Terangkum dalam bahasa penuh makna. Surat Al Kautsar.

Partner Note's

Tidak ada komentar:

Posting Komentar